LAPORAN PRAKTIK
KERJA INDUSTRI
DI. PT. DUPANTEX
TIRTO - PEKALONGAN
DISUSUN SEBAGAI
SALAH SATU TUGAS SISWA
SMK NEGERI 3 KOTA
PEKALONGAN
OLEH
NAMA : LILIK SUBKEHI
NIS : 09.5738
KOMPETENSI KEAHLIAN :
TEKNIK PEMBUATAN KAIN
SEKOLAH MENENGAH
KEJURUAN NEGERI 3 PEKALONGAN
BIDANG STUDI
KEAHLIAN TEKNOLOGI DAN REKAYASA
Jl. Perintis
Kemerdekaan No. 30 Telp. (0285) 421586
2012
MOTTO
1.
Bekerja keras, sungguh-sungguh dan
doa adalah jalan menuju kesuksesan
2.
Lebih baik diam dari pada banyak
bicara tapi tak tahu apa-apa.
3.
Orang miskin yang pintar maka akan
sukses, orang kaya yang pintar maka akan bersahaja.
PERSEMBAHAN
Laporan ini
penyusun persembahkan kepada :
1.
Bapak dan ibu yang telah
memberikan dukungan baik mental maupun material.
2.
Bapak Kepala SMK Negeri 3
Pekalongan.
3.
Bapak/Ibu Guru SMK Negeri 3
Pekalongan.
4.
Teman seperjuangan kelas XII PK I.
LAPORAN HASIL PRAKTIK
KERJA INDUSTRI
DI PT. DUPANTEX
TIRTO - PEKALONGAN
TELAH DIEVALUASI
MENGETAHUI /
MENYETUJUI
PEMBIMBING I
Drs. H. NURIDIN
NIP. 19630511 199403 1 005
PEMBIMBING II
EKO KURNIAWAN, ST.
NIP. -
MENGETAHUI /
MENYETUJUI
KEPALA SMK
NEGERI 3 PEKALONGAN
Drs. MUHAJIR
NIP. 19630304 198803 1 010
LAPORAN PRAKTIK
KERJA INDUSTRI
DI PT. DUPANTEX
TIRTO - PEKALONGAN
TELAH DIEVALUASI
MENGETAHUI /
MENYETUJUI
PEMBIMBING
PRAKTIK
I.
R. HARTONO
Kabag Weaving
2.
SUPARMIN
Kabag Persiapan Pertenunan
MENGETAHUI /
MENYETUJUI
PIMPINAN
PERUSAHAAN
SUPARDI
Manager Weaving
KATA
PENGANTAR
Syukur Alhamdulilah penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
rahmat, karunia dan hidayahNya sehingga penyusun dapat menyusun laporan hasil
Praktik Kerja Industri yang telah dilaksanakan di PT. DUPANTEX Tirto
Pekalongan.
Laporan Praktik Kerja Industri disusun sebagai salah satu tugas siswa
setelah melaksanakan Praktik Kerja Industri selama kurang lebih 3 bulan yaitu
dari tanggal 1 Juli 2011 sampai 30 September 2011.
Penyusun dalam melaksanakan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak, oleh karenaitu penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1.
Bapak Rohim, selaku Kepala
Personalia PT. DUPANTEX
2.
Bapak Supardi, selaku Manager
Departemen Pertenunan PT. DUPANTEX
3.
Bapak Hartono, selaku Kepala
Bagian Pertenunan PT. DUPANTEX
4.
Bapak Suparmin, selaku Kepala
Bagian Persiapan PT. DUPANTEX
5.
Bapak Supardi, selaku Kepala
Bagian Pemeriksaan Kain PT. DUPANTEX
6.
Bapak Drs. Muhajir, selaku Kepala
SMK Negeri 3 Pekalongan
7.
Bapak M. Subaidi, selaku Wakil
Kepala Sekolah Bidang Humas
8.
Bapak Nuridin, selaku Kepala
Program Keahlian Pembuatan Kain dan Pembimbing I
9.
Bapak Eko Kurniawan, selaku
Pembimbing Ii
10. Ibu Mahmudah Naharani sebagai Wali Kelas XII PK I
11. Bapak/Ibu Guru SMKN 3 Pekalongan
12. Ayahanda dan Ibunda tercinta
13. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusun Laporan Praktik
Kerja Industri.
Penyusun menyadari bahwa laporan yang dibuat ini masih banyak kekurangan,
maka dari itu penyusun tidak menutup diri terhadap kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Pekalongan, Nopember 2011
Penyusun
DAFTAR
ISI
JUDUL
............................................................................................................... i
MOTTO............................................................................................................... ii
PERSEMBAHAN............................................................................................... iii
HALAMAN
PENGESAHAN............................................................................ iv
KATA
PENGANTAR........................................................................................ v
DAFTAR
ISI....................................................................................................... vi
DAFTAR
GAMBAR.......................................................................................... vii
BAB
I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG...................................................................
B. TUJUAN........................................................................................
C. METODE.......................................................................................
BAB
II MENGOPERASIKAN MESIN-MESIN
PERSIAPAN PEMBUATAN KAIN TENUN
A.
PENGERTIAN PERSIAPAN........................................................
B.
PROSES PENGHANIAN..............................................................
C.
PROSES PENGANJIAN...............................................................
D.
PROSES PEMALETAN................................................................
BAB
III MENGOPERASIKAN MESIN-MESIN PEMBUATAN KAIN TENUN
A.
PENGERTIAN PERTENUNAN...................................................
B.
SPESIFIKASI MESIN...................................................................
C.
JALAN BENANG LUSI PADA MESIN TENUN.......................
BAB
IV MERAWAT MESIN-MESIN PEMBUATAN KAIN TENUN
A.
PENGERTIAN...............................................................................
B.
PEMASANGAN BUM (BEAM STELLER).................................
C.
PENYETELAN PEMBUKAAN MULUT LUSI..........................
D.
PENYETELAN PELUNCURAN TEROPONG
(PICKING MOTION)
E.
PENYETELAN PENGETEKAN..................................................
BAB
V MEMERIKSA MUTU KAIN
A.
MAKSUD DAN TUJUAN............................................................
B.
PRINSIP KERJA............................................................................
C.
JENIS CACAT KAIN....................................................................
BAB
VI PENUTUP
A.
KESIMPULAN..............................................................................
B.
SARAN...........................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA.........................................................................................
LAMPIRAN........................................................................................................
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR
II – 1 Urutan Proses Persiapan
Pertenunan..................................
GAMBAR
II – 2 Jalannya Benang pada Mesin Hani.....................................
GAMBAR
II – 3 Jalannya Benang pada Proses
Penganjian...........................
GAMBAR
II – 4 Jalannya Benang pada Proses
Pemaletan............................
GAMBAR
III – 1 Jalannya Benang Lusi.........................................................
GAMBAR
IV – 1 Penyetelan Mulut Lusi pada
Proses Pertenunan.................
GAMBAR
IV – 2 Penyetelan Pembukaan Mulut Lusi....................................
GAMBAR
IV – 3 Peluncuran Teropong..........................................................
GAMBAR
IV – 4 Penyetelan Pengetekan.......................................................
GAMBAR
V – 1 Urutan Proses Inspekting....................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perkembangan industri-industri tekstil yang
sedemikian ketat dan tajamnya persaingan dalam dunia kerja sehingga dituntut
adanya peningkatan ketrampilan dan kemampuan bagi setiap siswa yang akan
memasuki dunia kerja industri. Peningkatan ketrampilan dan kemampuan tersebut
membutuhkan kerja sama dari semua pihak.
Salah satu upaya untuk meningkatkan ketrampilan
dan kemampuan tersebut adalah dengan adanya program praktik industri yang
merupakan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, pihak sekolah dan industri.
Dengan adanya Prakerin siswa diharapkan mampu
menyerap budaya kerja profesional yang merupakan andalan utama dalam menentukan
keunggulan. Indonesia memerlukan tenaga kerja yang memiliki keahlian
profesional yang tinggi untuk menghindari perkembangan ekonomi global masa kini
dan masa yang akan datang.
B.
Tujuan
Prakerin
Penyelenggaraan
Praktek Kerja Industri di PT. Dupantex bertujuan untuk :
- Siswa dapat meningkatkan ketrampilan dan kemampuan
- Untuk meningkatkan kerja sama antara industri-industri dengan sekolah
- Siswa mempunyai mental kerja sebagai tenaga kerja profesional yang siap terjun ke dunia industri.
C.
Metode
Praktik
1.
Metode
Pengamatan
Pengamatan langsung secara visual terhadap proses produksi dan
budaya dunia kerja industri.
2.
Metode
Wawancara
Mengadakan wawancara atau tanya secara langsung kepada pembimbing
atau pihak yang berkaitan.
3.
Metode
Pemberian Tugas
Pembimbing memberikan tugas sebagai proses pelatihan ketrampilan
kerja.
4.
Metode
Diskusi
Melaksanakan diskusi untuk pemecahan suatu masalah dengan teman
mengenai produk.
5.
Metode
Pustaka
Dalam
melaksanakan pembuatan lamaran dengan membaca buku-buku yang ada di
perpustakaan.
BAB II
MENGOPERASIKAN
MESIN-MESIN PERSIAPAN PEMBUATAN KAIN TENUN
A.
Pengertian
Proses persiapan pertenunan merupakan hal-hal
yang dipersiapkan sebelum proses pertenunan berlangsung agar proses pembuatan
kain dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu proses persiapan pertenuan
merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalam proses pertenunan di
samping proses lain.
Proses persiapan pertenunan di PT.Dupantex
Pekalongan ada lima yaitu pengelosan, pemaletan, penghanian, penganjian dan
pencucukan. Dalam melaksanakan praktik di PT. Dupantex Pekalongan, pada unit
persiapan, penyusun yang ditempatkan pada bagian persiapan tertentu diberi
kesempatan untuk menganalisa data mesin-mesin persiapan pertenunan.
![]() |
Gambar
II.1
Urutan
Proses Persiapan Pertenunan
B.
Proses
Penghanian (Warping)
1.
Maksud
dan Tujuan
Maksud dan proses penghanian adalah untuk mengubah bentuk gulungan
cones menjadi gulungan barang pada bum yang sejajar.
Tujuannya
sebagai berikut :
a.
Mendapatkan
gulungan benang lusi yang sejajar
b.
Memperlancar
proses selanjutnya.
2.
Spesifikasi
Mesin Hani
Sistem penghaniannya adalah hani lebar
-
Merk : TAYA
-
Type : BM 608
-
Buatan
: Taiwan
-
Tahun
: 1991
-
Kapasitas
krel : 600
-
Bentuk
sisir : 219 – 229
-
Otomatis
lusi putus : Sensor
-
Kecepatan
Penggulungan : -
3.
Skema Mesin Hani
Skema Mesin Hani
Gambar II. 2
Jalannya Benang pada Mesin Hani
Keterangan Gambar
a.
Rak
hani
b.
Benang
cones
c.
Penghantar
benang
d.
Panjang
benang
e.
Sisir
hani
f.
Rol
pengukur
g.
Bum
hani
h.
Rol
penjepit
i.
Sensor
C.
Proses
Penganjian
1.
Maksud
dan Tujuan
Maksud dari proses penganjian adalah memberi
lapisan kanji pada benang lusi untuk meningkatkan kekuatan daya tahan benang.
Tujuannya
adalah sebagai berikut :
a.
Menambah
kekuatan benang
b.
Menambah
daya tahan gesek
c.
Memberikan
sifat khusus pada benang
2.
Spesifikasi
Mesin Kanji
-
Merk : SUCKER
-
Buatan
: Jerman
-
Tahun
: 1961
-
Sistem
pengeringan :
Silinder
-
Jumlah
pengeringan : 9
silinder
-
Suhu
pengeringan :
120ºC
-
Suhu
size box : 100ºC
-
Kapasitas
Bum : 12
-
Kecepatan
penggulungan : 20 – 30 m/menit
3.
Jalannya Benang pada Mesin Kanji
![]() |

Gambar II.3
Jalannya Benang pada Proses Penganjian
Keterangan gambar :
a.
Bum
Hani
b.
Rol
Pengantar
c.
Rol
Peredam
d.
Rol
Pemeras
e.
Larutan
Kanji
f.
Rol
Pengering
g.
Rol
Pemisah
h.
Sisir
Kanji
i.
Rol
Conte
j.
Rol
Pengatur Tegangan
k.
Bum
Tenun
Keterangan
gambar :
a.
Rak
hani
b.
Benang
cones
c.
Penghantar
benang
d.
Panjang
benang
e.
Sisir
hani
f.
Rol
pengukur
g.
Bum
hani
h.
Rol
penjepit
i.
Sensor
D.
Proses
Pemaletan
1.
Maksud
dan Tujuan
Untuk maksud dari proses pemaletan adalah penggulungan benang dari bentuk cones menjadi gulungan palet
untuk dijadikan benang pembuatan kain.
Tujuan pemaletan adalah :
a.
Menghasilkan
gulungan palet yang baik
b.
Untuk
memperlancar proses selanjutnya.
2.
Spesifikasi
Mesin Palet :
a.
- Merek : SEOBU MACHINERY
- Buatan : Korea
- Type : 42.79
- Tahun : 1991
- Jumlah Spindel : 12
spindel
- Kecepatan motor : -
- Kecepatan spindel : -
b.
- Merk : WASHING MACHINERY
- Buatan : Korea
- Tahun : 1991
- Jumlah spindel : 12 spindel
- Kecepatan motor : 1400 RPM
- Kecepatan spindel : 600 RPM
3.
Jalannya
Benang pada Mesin Palet
Jalannya benang pada proses pemaletan di PT. Dupantex :
![]() |

Gambar II.4
Jalannya Benang pada Proses Pemaletan
Keterangan gambar :
a.
Cones
Benang
b.
Pengantar
c.
Benang
d.
Tension
Washer
e.
Peraba
f.
Traver
Seguide
g.
Bobbin
Palet
h.
Spindle
Bobbin
BAB III
DASAR-DASAR
MESIN PENDINGIN
A.
Pengertian
Pertenunan adalah proses pengulangan benang
lusi dan benang pakan yang dirapatkan membentuk anyaman sehingga terbentuk
kain. Tujuh dari proses pertenunan adalah untuk mendapatkan kain sesuai dengan
jumlah dan kualitas yang telah ditentukan dalam rencana produk.
Selama melaksanakan praktik di PT. Dupantex
penyusun ditempatkan di semua ruang pertenunan yang mana apabilaada mesin yang
kosong di situ penyusun melaksanakan tugas. Di PT Dupantex kain yang sangat
dihasilkan adalah kain beranyaman polos. Anyaman polos adalah penyilangan
antara benang lusi dengan pakan.
B.
Spesifikasi
Mesin Tenun
1.
Merek
: CHINE TEXTILE MACHINERY
2.
Buatan
: RRC
3.
Tahun
: 1991
4.
Type : GA B 15/1515
5.
Putaran
Motor : 56 inchi
6.
Lebar
Kerja Mesin : 1960 RPM
7.
Putaran
poros utama : 170 RPM
8.
Pembukaan
Mulut Lusi : Eksentrik
9.
Peluncuran
Pakan : Sistem Pukulan Bawah
10.
Sistem
Penggulungan : Positif
11.
Sistem
Penguluran Lusi : Positif
12.
Otomatis
Lusi : Dropper
13.
Otomatis
Pakan : Feeler (Jarum)
14.
Jarum
Mesin : Pergantian Teropong (Shuttle Change)
C.
Jalan
Benang Lusi pada Mesin Tenun
Jalannya
benang lusi proses pertenunan dapat dilihat pada gambar berikut :


Gambar III.1
Jalannya Benang Lusi pada Proses Pertenunan
Keterangan
gambar :
a.
Beam
tenun
b.
Rol
belakang
c.
Gandar
layang
d.
Dropper
e.
Benang
lusi
f.
Gun
g.
Sisir
h.
Ring
temple
i.
Kain
j.
Gandar
depan
k.
Rol
penegang
l.
Gandar
panit
m.
Rol
penggulung
BAB IV
MERAWAT MESIN-MESIN PEMBUATAN KAIN
A.
Pengertian
Dalam
kegiatan operasional, mesin-mesin yang ada di industri hampir tidak pernah
berhenti, maka dari itu untuk menjaga kondisi mesin dan untuk menhindari
terjadinya penurunan efisiensi produksi akibat kerusakan mesin, serta untuk
mempertahankan kualitas kain agar tetap terjamin perlu diadakan pemeliharaan
mesin ini dititik beratkan pada maintenance mekanik serta dibantu operator.
Selama
melaksanakan praktik di PT. Dupantex Pekalongan pada bagian pemeliharaan mesin,
penyusun melakukan beberapa penyetelan diantara sebagai berikut :
B.
Pemasangan Bum (Beam Steller)
Sebelum
pemasarangan bum dilakukan adanya beberapa hal yang harus diperhatikan antara
lain :
a.
Keberhasilan
mesin
b.
Otomatis
lusi
c.
Otomatis
pakan
d.
Konstruksi
kain
Langkah-langkah
penyetelan bum tenun adalah sebagai berikut :
a.
Membersihkan
mesin
b.
Mengecek
kondisi mesin
c.
Mengecek
otomatis pakan
d.
Mengecek
otomatis lusi
e.
Meletakkan
gabungan dropper, gun dan sisir di atas mesin
f.
Meletakkan
bum pada dudukan bum
g.
Memasang
rel gun pada kamran
h.
Melepaskan
tali pada dropper dan meratakan jajaran dropper agar sama dengan lebar kain
i.
Memasang
sisir dan meletakkannya di atas lade
j.
Menarik
benang lusi dan meratakan tegangannya serta membagi benang lusi 6 – 8 kelompok
ikatan.
k.
Benang
lusi yang sudah sama tegangannya diikatkan pada gandar parut dengan ketentuan
kelompok ikatan
l.
Menarik
dropper secara perlahan-lahan dan dipasang pada tempatnya
m.
Rol
gun diikatkan dengan kampuan
n.
Menyiapkan
benang pakan pada kotak pergantian teropong
o.
Menjalankan
mesin dengan pelan-pelan agar benang sedikit-sedikit teranyam
p.
Untuk
memasang jarum (otomatis benang pakan) minimal panjang kain harus 5 cm
q.
Jaram
yang umum dengan kain adalah 1 cm
r.
Menjalankan
mesin dengan melepaskan handle (ON) dengan syarat mesin berjalan dengan lancar
s.
Memasang
kain pada rol penggulung apabila kain tersebut sudah mencapai batas ketentuan
(± 3 m)
C.
Penyetelan Pembukaan Mulut Lusi
Mulut
lusi adalah rongga yang terbentuk karena adanya sebagian benang lusi yang naik
dan sebagian turun pada proses pembuatan kain.
Syarat
pembukaan mulut lusi yang baik adalah :
a.
Berdasarkan
mulut lusi sekecil-kecilnya tetapi bisa dilalui teropong dengan mudah
b.
Permukaan
mulut lusi harus rata pada bagian depan baik mulut atas maupun mulut bawah
c.
Tegangan
benang harus sama
d.
Benang
lusi tidak boleh terganggu oleh gerakan rel gun
Benang
lusi tidak boleh terganggu oleh gerakan rel gun
Gambar
IV. 1
Penyetelan
mulut lusi
Keterangan :
A :
Poros engkol
B :
Sisir
C :
Benang Lusi
D :
Penjepit sisir
E :
Lusi Genap
F :
Lusi Ganjil
H :
Kain
Penyetelan
mulut lusi dilakukan jika mulut lusi tidak memenuhi syarat-syarat diatas atau
terdapat mesin baru yang perlu dilakukan penyetelan.
Langkah-langkah
penyetelan pembukaan mulut lusi adalah sebagai berikut:
a.
Memutar
poros engkol pada titik mati atas atau jarak antara sisir dengan dada ± 23,5 cm
b.
Meratakan/mensejajarkan
posisi kamran
c.
Posisi
eksentrik yang sejajar, eksentrik besar untuk kamran bagian depandan eksentrik
yang kecil untuk kamran bagian belakang
d.
Jarak
benang lusi pada saat mulut lusi tertutup 1/3 tinggi sisir
e.
Memutar
poros engkol pada posisi 10º setelah titik mati bawah dan mulut lusi terbuka
maksimal
f.
Jarak
antara benang lusi dengan dasar luncur ± 0,3 – 1 mm
g.
Mengatur
posisi eksentrik dengan cara mengankat injakan no 1 dan 2 hingga rata dan rol
injakan menempel dengan eksentrik kemudian baud eksentrik kemudian baud
eksentrik dikencangkan
h.
Memasang
turn buckle untuk menghubungkan kamran dengan injakan
i.
Mensejajarkan
kamran dengan cara mengencangkan atau mengendorkan turn buckle
Untuk
lebih jelasnya penyetelnya pembukaan mulut lusi dapat dilihat pada gambar
berikut ini :


Gambar
IV.2
Penyetelan
Pembukaan Mulut Lusi
Keterangan
gambar :
a.
Rol
kerek
b.
Poros
rol kerek
c.
Kotak
dudukan
d.
Dudukan
poros rol kerek
e.
Frame
f.
Sabuk
kamran
g.
Hanger
h.
Kamran
i.
Turn
buckle
j.
Baut
eksentrik
k.
Eksentrik
l.
Poros
eksentrik
m.
Rol
eksentrik
n.
Rol
injakan
o.
Injakan
D.
Penyetelan Peluncuran Teropong (Picking Motion)
a.
Picking
Time (saat memukul)
1)
Memutar
poros engkol sebelum bawah atau jarak antara sisir dengan lade 9 inci
2)
Menyetel
picking bowl hingga pada lereng picking bagian belakang
b.
Picking
Stroke (kekuatan pukulan)
1)
Picking
bowl, pada posisi puncak picking nuse atau picking stik memukul penuh
2)
Mengukur
kekerasan pukulan dengan picking stik berjarak 11 inchi dari kotak teropong
bagian depan


Gambar
IV.3
Peluncuran
Teropong
Keterangan
gambar :
a.
Poros
engkol
b.
Sisir
c.
Balok
dada
d.
Picking
bowl
e.
Picking
nuse
f.
Picking
stick
g.
Kotak
teropong
h.
Picker
E.
Penyetelan
Pengetekan (Beating Motion)
a.
Mengukur
poros engkol
b.
Menyetel
stop finger sehingga lurus dengan duck bill
c.
Jarak
pada saat pengetekan antara duck bill dengan stop finger ± 8,4 mm
d.
Menyetel
kemiringan sisir dengan dasar luncur sebesar 85º


Gambar IV.4
Penyetelan Pengetakan
Keterangan
gambar :
a.
Poros
engkol
b.
Stop
finger
c.
Duck
bill
d.
Sisir
e.
Dasar
luncur
f.
Tutup
sisir
g.
Penjepit
sisir
h.
Poros
lade
BAB V
MEMERIKSA MUTU KAIN
A.
Maksud dan Tujuan
Kain hasil proses pembuatan kain seringkali
terdapat cacat kain baik yang disebabkan oleh bahan baku (benang yang kurang),
lingkungan kerja yang kurang bersih, mesin tenun yang kurang standar maupun
kecerobohan dari operator tenun. Kain grey hasil pertenunan sebelum diproses
pada finishing atau dipasarkan, terlebih dahulu harus dikerjakan pada proses
pemeriksaan kain.
Inspeksi adalah proses pemeriksaan dan
perbaikan kain mentak atau grey yang merupakan hasil pertenunan. Untuk
mengetahui jumlah cacat kain sehingga dapat digulungkan pada gradenya sesuai
dengan standart yang digunakan.
Adapun
tujuan dari inspeksi adalah :
1.
Untuk
menggulungkan kain dalam hal mutu/kualitas sesuai dengan standar yang digunakan
2.
Untuk
memperbaiki mutu kain
3.
Untuk
memberikan informasi kepada produksi tentang kain yangdihasilkan sehingga dapat
dilakukan perbaikan jika kain yang dihasilkan mutunya kurang baik.
B.
Prinsip Kerja
Ada 6 tahap pada proses inspeksi yang harus
dilakukan secara urut. Keenam tahapan tersebut dapat dilihat pada gambar urutan
inspeksi berikut ini:


Gambar V.1
Urutan Proses Inspecting
Pada bagian inspeksi penyusun hanya melakukan
pada tahap Mending (perbaikan kain) dan Folding (lipat kain)
1.
Mending
(Perbaikan Kain)
Cacat-cacat kain yang terdapat pada kain polos jika tidak
diperbaiki dapat menimbulkan hal yang buruk. Dampak tersebut dapat dirasakan
oleh konsumen yaitu tidak persisnya produk yang dibeli dan juga dapat dirasakan
oleh perusahaan yaitu tingkat permintaan konsumen yang menurun secara terus
menerus dapat menimbulkan atau menyebabkan pabrik itu bangkrut. Salah satu cara
untuk menghindari hal di atas adalah dengan melakukan perbaikan mutu pada kain
yang disebut juga dengan mending.
a.
Alat-alat
kerja Mending
1)
Gunting
kecil : untuk memotong benang
2)
Sisir/sucket : untuk menempatkan kain yang jarang
3)
Penjepit : untuk menjepit kain
2.
Folding
Folding
adalah proses pelipatan kain yang dilakukan oleh mesin dan diawasi oleh satu
orang di depan mesin satu orang di belakang mesin dan setelah selesai dilipat,
kain diikat dan ditaruh diproses Despatching (penyimpanan)
a.
Alat-alat
kerja folding
1)
Mesin
Folding : untuk melipat kain
2)
Tali
rafia : untuk
mengikat kain
3)
Gunting : untuk memotong tali
4)
Spidol : untuk mencatat hasil
doffing di tepi kain
b.
Cara
kerja mesin folding
1)
Mengambil
lipatan kain yang sudah diperiksa
2)
Meletakkan
kain dibelakang mesin folding
3)
Menarik
ujung kain dan menjepitkannya pada bagian depan mesin folding
4)
Menekan
tombon ON dan memperhatikan lipatan
5)
Menekan
tombol OFF jika gulungan sudah selesai
6)
Melepaskan
kain dari mesin folding
7)
Mengikat
lipatan kain dengan tali rafia sekuat mungkin dan memberi tanda potong kain
pada bagian ujung kain dengan spidol
C.
Jenis
Cacat Kain
Kain
hasil pertenunan kadang-kadang memiliki cacat baik ke arah lusi maupun ke arah
pakan. Cacat tersebut ada yang dapat diperbaiki dan ada juga yang tidak dapat
diperbaiki.
Macam-macam
cacat kain pada proses mending :
1.
Cacat
kain ke arah lusi
a.
Lusi
putus
b.
Lusi
floating (tidak teranyam)
c.
Lusi
kendor
d.
Lusi
tegang
e.
Lusi
double/rangkap
2.
Cacat
kain ke arah pakan
a.
Pakan
jarang
b.
Pakan
rangkap
c.
Pakan
snarling
d.
Pakan
putus
BAB VI
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah melaksanakan Praktik Kerja Industri di
PT. Dupantex Pekalongan dari tanggal 1 Juli 2011 sampai dengan tanggal 30
September 2011, maka penyusun mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.
Bidang
ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
a.
Jenis
kain yang diproduksi oleh PT. Dupantex adalah kain grey dengan anyaman polos
yang digunakan untuk bahan kemeja dan batik.
b.
Pada
PT. Dupantex mesin hani yang digunakan adalah mesin hani lebar
c.
Mesin
tenun yang digunakan adalah semua sama yaitu mesin tenun RRC dengan kecepatan
Poros Utama 170 RPM.
2.
Budaya
Kerja
a.
Sebagian
karyawan kurang menyadari akan pentingnya pemakaian masker dan tutup telinga
(kapas) sebagai keselamatan kerja.
b.
Sebagian
karyawan belum memperhatikan Standar Operasional (SOP) sehingga sering terjadi
problem dalam produksi.
B.
Saran-saran
Berdasarkan hasil
pengamatan penyusun selama melaksanakn praktik kerja industri, maka timbul
pemikiran untuk memberikan saran yang mungkin dapat berguna bagi perusahaan di
masa yang akan datang. Adapun saran-saran tersebut antara lain :
1.
Untuk
memenuhi kebutuhan sandang masyarakat lokal maupun interlokal sebaiknya
perusahaan juga memproduksi kain selain kain polos.
2.
Untuk
membangkitkan semangat akan budaya kerja berupa bonus terutama bagi karyawan
yang berprestasi.
3.
Untuk
meningkatkan keberhasilan sebaiknya disediakan tempat-tempat sampah lebih
banyak.
4.
Untuk
meningkatkan aturan tentang larangan-larangan karyawan di tempat kerja supaya
simbol-simbol larangan diperbanyak.
5.
Untuk
mengetahui kemajuan siswa, maka perlu diadakan ujian tertulis maupun lisan.
DAFTAR PUSTAKA
Karnadi, Rama, Teori
Pembuatan Kain 3, Depdikbud : Jakarta, 1980
Sutandar, Tatan, Pajakun, Teori Pembuatan
Kain 2, Depdikbud : Jakarta, 1978
Persiapan Maintenance, Inspecting, PT.
Dupantex Pekalongan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar