Selasa, 07 Agustus 2012

CONTOH LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI PT. XXX


LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI
DI. PT. DUPANTEX
TIRTO - PEKALONGAN













DISUSUN SEBAGAI SALAH SATU TUGAS SISWA
SMK NEGERI 3 KOTA PEKALONGAN










OLEH
NAMA                                                :  LILIK SUBKEHI
NIS                                                     :  09.5738
KOMPETENSI  KEAHLIAN                       :  TEKNIK PEMBUATAN KAIN
  











SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 3 PEKALONGAN
BIDANG STUDI KEAHLIAN TEKNOLOGI DAN REKAYASA
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 30 Telp. (0285) 421586
2012

MOTTO

1.      Bekerja keras, sungguh-sungguh dan doa adalah jalan menuju kesuksesan
2.      Lebih baik diam dari pada banyak bicara tapi tak tahu apa-apa.
3.      Orang miskin yang pintar maka akan sukses, orang kaya yang pintar maka akan bersahaja.

PERSEMBAHAN

Laporan ini penyusun persembahkan kepada :
1.      Bapak dan ibu yang telah memberikan dukungan baik mental maupun material.
2.      Bapak Kepala SMK Negeri 3 Pekalongan.
3.      Bapak/Ibu Guru SMK Negeri 3 Pekalongan.
4.      Teman seperjuangan kelas XII PK I.

LAPORAN HASIL PRAKTIK KERJA INDUSTRI
DI PT. DUPANTEX
TIRTO - PEKALONGAN

TELAH DIEVALUASI


MENGETAHUI / MENYETUJUI
PEMBIMBING I


Drs. H. NURIDIN
NIP. 19630511 199403 1 005


PEMBIMBING II


EKO KURNIAWAN, ST.
NIP. -


MENGETAHUI / MENYETUJUI
KEPALA SMK NEGERI 3 PEKALONGAN


Drs. MUHAJIR                                                         
NIP. 19630304 198803 1 010                                                           

LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI
DI PT. DUPANTEX
TIRTO - PEKALONGAN

TELAH DIEVALUASI


MENGETAHUI / MENYETUJUI
PEMBIMBING PRAKTIK
I.


R. HARTONO
Kabag Weaving


2.


SUPARMIN
Kabag Persiapan Pertenunan


MENGETAHUI / MENYETUJUI
PIMPINAN PERUSAHAAN


SUPARDI
Manager Weaving                                          

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulilah penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia dan hidayahNya sehingga penyusun dapat menyusun laporan hasil Praktik Kerja Industri yang telah dilaksanakan di PT. DUPANTEX Tirto Pekalongan.
Laporan Praktik Kerja Industri disusun sebagai salah satu tugas siswa setelah melaksanakan Praktik Kerja Industri selama kurang lebih 3 bulan yaitu dari tanggal 1 Juli 2011 sampai 30 September 2011.
Penyusun dalam melaksanakan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karenaitu penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1.      Bapak Rohim, selaku Kepala Personalia PT. DUPANTEX
2.      Bapak Supardi, selaku Manager Departemen Pertenunan PT. DUPANTEX
3.      Bapak Hartono, selaku Kepala Bagian Pertenunan PT. DUPANTEX
4.      Bapak Suparmin, selaku Kepala Bagian Persiapan PT. DUPANTEX
5.      Bapak Supardi, selaku Kepala Bagian Pemeriksaan Kain PT. DUPANTEX
6.      Bapak Drs. Muhajir, selaku Kepala SMK Negeri 3 Pekalongan
7.      Bapak M. Subaidi, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas
8.      Bapak Nuridin, selaku Kepala Program Keahlian Pembuatan Kain dan Pembimbing I
9.      Bapak Eko Kurniawan, selaku Pembimbing Ii
10.  Ibu Mahmudah Naharani sebagai Wali Kelas XII PK I
11.  Bapak/Ibu Guru SMKN 3 Pekalongan
12.  Ayahanda dan Ibunda tercinta
13.  Semua pihak yang telah membantu dalam penyusun Laporan Praktik Kerja Industri.
Penyusun menyadari bahwa laporan yang dibuat ini masih banyak kekurangan, maka dari itu penyusun tidak menutup diri terhadap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Pekalongan,  Nopember 2011


Penyusun

DAFTAR ISI

JUDUL ...............................................................................................................      i
MOTTO...............................................................................................................     ii
PERSEMBAHAN...............................................................................................    iii
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................    iv
KATA PENGANTAR........................................................................................     v
DAFTAR ISI.......................................................................................................    vi
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................   vii
BAB I   PENDAHULUAN
              A.   LATAR BELAKANG...................................................................      
              B.   TUJUAN........................................................................................      
              C.   METODE.......................................................................................      
BAB II  MENGOPERASIKAN MESIN-MESIN
              PERSIAPAN PEMBUATAN KAIN TENUN
A.    PENGERTIAN PERSIAPAN........................................................      
B.     PROSES PENGHANIAN..............................................................
C.     PROSES PENGANJIAN...............................................................      
D.    PROSES PEMALETAN................................................................      
BAB III MENGOPERASIKAN MESIN-MESIN PEMBUATAN KAIN TENUN
A.    PENGERTIAN PERTENUNAN...................................................
B.     SPESIFIKASI MESIN...................................................................
C.     JALAN BENANG LUSI PADA MESIN TENUN.......................
BAB IV MERAWAT MESIN-MESIN PEMBUATAN KAIN TENUN
A.    PENGERTIAN...............................................................................
B.     PEMASANGAN BUM (BEAM STELLER).................................
C.     PENYETELAN PEMBUKAAN MULUT LUSI..........................
D.    PENYETELAN PELUNCURAN TEROPONG (PICKING MOTION)       
E.     PENYETELAN PENGETEKAN..................................................      
BAB V MEMERIKSA MUTU KAIN
A.    MAKSUD DAN TUJUAN............................................................
B.     PRINSIP KERJA............................................................................
C.     JENIS CACAT KAIN....................................................................
BAB VI PENUTUP
A.    KESIMPULAN..............................................................................
B.     SARAN...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................      
LAMPIRAN........................................................................................................                  

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR II – 1     Urutan Proses Persiapan Pertenunan..................................      
GAMBAR II – 2     Jalannya Benang pada Mesin Hani.....................................      
GAMBAR II – 3     Jalannya Benang pada Proses Penganjian...........................      
GAMBAR II – 4     Jalannya Benang pada Proses Pemaletan............................      
GAMBAR III – 1    Jalannya Benang Lusi.........................................................      
GAMBAR IV – 1    Penyetelan Mulut Lusi pada Proses Pertenunan.................      
GAMBAR IV – 2    Penyetelan Pembukaan Mulut Lusi....................................      
GAMBAR IV – 3    Peluncuran Teropong..........................................................      
GAMBAR IV – 4    Penyetelan Pengetekan.......................................................      
GAMBAR V – 1     Urutan Proses Inspekting....................................................      

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan industri-industri tekstil yang sedemikian ketat dan tajamnya persaingan dalam dunia kerja sehingga dituntut adanya peningkatan ketrampilan dan kemampuan bagi setiap siswa yang akan memasuki dunia kerja industri. Peningkatan ketrampilan dan kemampuan tersebut membutuhkan kerja sama dari semua pihak.
Salah satu upaya untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan tersebut adalah dengan adanya program praktik industri yang merupakan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, pihak sekolah dan industri.
Dengan adanya Prakerin siswa diharapkan mampu menyerap budaya kerja profesional yang merupakan andalan utama dalam menentukan keunggulan. Indonesia memerlukan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional yang tinggi untuk menghindari perkembangan ekonomi global masa kini dan masa yang akan datang.

B.     Tujuan Prakerin
Penyelenggaraan Praktek Kerja Industri di PT. Dupantex bertujuan untuk :
  1. Siswa dapat meningkatkan ketrampilan dan kemampuan
  2. Untuk meningkatkan kerja sama antara industri-industri dengan sekolah
  3. Siswa mempunyai mental kerja sebagai tenaga kerja profesional yang siap terjun ke dunia industri.



C.    Metode Praktik
1.      Metode Pengamatan
Pengamatan langsung secara visual terhadap proses produksi dan budaya dunia kerja industri.
2.      Metode Wawancara
Mengadakan wawancara atau tanya secara langsung kepada pembimbing atau pihak yang berkaitan.        
3.      Metode Pemberian Tugas
Pembimbing memberikan tugas sebagai proses pelatihan ketrampilan kerja.
4.      Metode Diskusi
Melaksanakan diskusi untuk pemecahan suatu masalah dengan teman mengenai produk.
5.      Metode Pustaka
Dalam melaksanakan pembuatan lamaran dengan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan.




BAB II
MENGOPERASIKAN MESIN-MESIN PERSIAPAN PEMBUATAN KAIN TENUN

A.    Pengertian
Proses persiapan pertenunan merupakan hal-hal yang dipersiapkan sebelum proses pertenunan berlangsung agar proses pembuatan kain dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu proses persiapan pertenuan merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalam proses pertenunan di samping proses lain.
Proses persiapan pertenunan di PT.Dupantex Pekalongan ada lima yaitu pengelosan, pemaletan, penghanian, penganjian dan pencucukan. Dalam melaksanakan praktik di PT. Dupantex Pekalongan, pada unit persiapan, penyusun yang ditempatkan pada bagian persiapan tertentu diberi kesempatan untuk menganalisa data mesin-mesin persiapan pertenunan.












Gambar II.1
Urutan Proses Persiapan Pertenunan
B.     Proses Penghanian (Warping)
1.      Maksud dan Tujuan
Maksud dan proses penghanian adalah untuk mengubah bentuk gulungan cones menjadi gulungan barang pada bum yang sejajar.
Tujuannya sebagai berikut :
a.       Mendapatkan gulungan benang lusi yang sejajar
b.      Memperlancar proses selanjutnya.

2.      Spesifikasi Mesin Hani
Sistem penghaniannya adalah hani lebar
-          Merk                                  : TAYA
-          Type                                  : BM 608
-          Buatan                               : Taiwan
-          Tahun                                : 1991
-          Kapasitas krel                    : 600
-          Bentuk sisir                       : 219 – 229
-          Otomatis lusi putus                       : Sensor
-          Kecepatan Penggulungan : -

3.      Description: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-4.jpgSkema Mesin Hani






Gambar II. 2
Jalannya Benang pada Mesin Hani
Keterangan Gambar
a.       Rak hani
b.      Benang cones
c.       Penghantar benang
d.      Panjang benang
e.       Sisir hani
f.       Rol pengukur
g.      Bum hani
h.      Rol penjepit
i.        Sensor
C.    Proses Penganjian
1.      Maksud dan Tujuan
Maksud dari proses penganjian adalah memberi lapisan kanji pada benang lusi untuk meningkatkan kekuatan daya tahan benang.
Tujuannya adalah sebagai berikut :
a.       Menambah kekuatan benang
b.      Menambah daya tahan gesek
c.       Memberikan sifat khusus pada benang
2.      Spesifikasi Mesin Kanji
-          Merk                                  : SUCKER
-          Buatan                               : Jerman
-          Tahun                                : 1961
-          Sistem pengeringan                       : Silinder
-          Jumlah pengeringan                      : 9 silinder
-          Suhu pengeringan                         : 120ºC
-          Suhu size box                    : 100ºC
-          Kapasitas Bum                  : 12
-          Kecepatan penggulungan  : 20 – 30 m/menit


3.      Jalannya Benang pada Mesin Kanji


Description: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-16.jpgDescription: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-16.jpg


























Gambar II.3
Jalannya Benang pada Proses Penganjian
Keterangan gambar :
a.       Bum Hani
b.      Rol Pengantar
c.       Rol Peredam
d.      Rol Pemeras
e.       Larutan Kanji
f.       Rol Pengering
g.      Rol Pemisah
h.      Sisir Kanji
i.        Rol Conte
j.        Rol Pengatur Tegangan
k.      Bum Tenun



Keterangan gambar :
a.       Rak hani
b.      Benang cones
c.       Penghantar benang
d.      Panjang benang
e.       Sisir hani
f.       Rol pengukur
g.      Bum hani
h.      Rol penjepit
i.        Sensor

D.    Proses Pemaletan
1.      Maksud dan Tujuan
Untuk maksud dari proses pemaletan adalah penggulungan benang  dari bentuk cones menjadi gulungan palet untuk dijadikan benang pembuatan kain.
Tujuan pemaletan adalah :
a.       Menghasilkan gulungan palet yang baik
b.      Untuk memperlancar proses selanjutnya.
2.      Spesifikasi Mesin Palet :
a.       -   Merek                            :  SEOBU MACHINERY
-   Buatan                          :  Korea
-   Type                              :  42.79
-   Tahun                            :  1991
-   Jumlah Spindel                         :  12 spindel
-   Kecepatan motor          :  -
-   Kecepatan spindel        :  -
b.      -  Merk                              :  WASHING MACHINERY
-  Buatan                           :  Korea
-   Tahun                            :  1991
-   Jumlah spindel              :  12 spindel
-   Kecepatan motor          :  1400 RPM
-   Kecepatan spindel        :  600 RPM
3.      Jalannya Benang pada Mesin Palet
Jalannya benang pada proses pemaletan di PT. Dupantex :


 
Description: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-7.jpg

Gambar II.4
Jalannya Benang pada Proses Pemaletan
Keterangan gambar :
a.       Cones Benang
b.      Pengantar
c.       Benang
d.      Tension Washer
e.       Peraba
f.       Traver Seguide
g.      Bobbin Palet
h.      Spindle Bobbin


BAB III
DASAR-DASAR MESIN PENDINGIN

A.    Pengertian
Pertenunan adalah proses pengulangan benang lusi dan benang pakan yang dirapatkan membentuk anyaman sehingga terbentuk kain. Tujuh dari proses pertenunan adalah untuk mendapatkan kain sesuai dengan jumlah dan kualitas yang telah ditentukan dalam rencana produk.
Selama melaksanakan praktik di PT. Dupantex penyusun ditempatkan di semua ruang pertenunan yang mana apabilaada mesin yang kosong di situ penyusun melaksanakan tugas. Di PT Dupantex kain yang sangat dihasilkan adalah kain beranyaman polos. Anyaman polos adalah penyilangan antara benang lusi dengan pakan.

B.     Spesifikasi Mesin Tenun
1.      Merek                                     :  CHINE TEXTILE MACHINERY
2.      Buatan                                    :  RRC
3.      Tahun                                     :  1991
4.      Type                                       :   GA B 15/1515
5.      Putaran Motor                        :  56 inchi
6.      Lebar Kerja Mesin                 :  1960 RPM
7.      Putaran poros utama              :  170 RPM
8.      Pembukaan Mulut Lusi          :  Eksentrik
9.      Peluncuran Pakan                   :  Sistem Pukulan Bawah
10.  Sistem Penggulungan             :   Positif
11.  Sistem Penguluran Lusi         :   Positif
12.  Otomatis Lusi                        :   Dropper
13.  Otomatis Pakan                      :  Feeler (Jarum)
14.  Jarum Mesin                           :  Pergantian Teropong (Shuttle Change)
C.    Jalan Benang Lusi pada Mesin Tenun
Jalannya benang lusi proses pertenunan dapat dilihat pada gambar berikut :
Description: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-8.jpg
Gambar III.1
Jalannya Benang Lusi pada Proses Pertenunan
Keterangan gambar :
a.       Beam tenun
b.      Rol belakang
c.       Gandar layang
d.      Dropper
e.       Benang lusi
f.       Gun
g.      Sisir
h.      Ring temple
i.        Kain
j.        Gandar depan
k.      Rol penegang
l.        Gandar panit
m.    Rol penggulung
BAB IV
MERAWAT MESIN-MESIN PEMBUATAN KAIN

A.    Pengertian
Dalam kegiatan operasional, mesin-mesin yang ada di industri hampir tidak pernah berhenti, maka dari itu untuk menjaga kondisi mesin dan untuk menhindari terjadinya penurunan efisiensi produksi akibat kerusakan mesin, serta untuk mempertahankan kualitas kain agar tetap terjamin perlu diadakan pemeliharaan mesin ini dititik beratkan pada maintenance mekanik serta dibantu operator.
Selama melaksanakan praktik di PT. Dupantex Pekalongan pada bagian pemeliharaan mesin, penyusun melakukan beberapa penyetelan diantara sebagai berikut :

B.     Pemasangan Bum (Beam Steller)
Sebelum pemasarangan bum dilakukan adanya beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :
a.       Keberhasilan mesin
b.      Otomatis lusi
c.       Otomatis pakan
d.      Konstruksi kain
Langkah-langkah penyetelan bum tenun adalah sebagai berikut :
a.       Membersihkan mesin
b.      Mengecek kondisi mesin
c.       Mengecek otomatis pakan
d.      Mengecek otomatis lusi
e.       Meletakkan gabungan dropper, gun dan sisir di atas mesin
f.       Meletakkan bum pada dudukan bum
g.      Memasang rel gun pada kamran
h.      Melepaskan tali pada dropper dan meratakan jajaran dropper agar sama dengan lebar kain
i.        Memasang sisir dan meletakkannya di atas lade
j.        Menarik benang lusi dan meratakan tegangannya serta membagi benang lusi 6 – 8 kelompok ikatan.
k.      Benang lusi yang sudah sama tegangannya diikatkan pada gandar parut dengan ketentuan kelompok ikatan
l.        Menarik dropper secara perlahan-lahan dan dipasang pada tempatnya
m.    Rol gun diikatkan dengan kampuan
n.      Menyiapkan benang pakan pada kotak pergantian teropong
o.      Menjalankan mesin dengan pelan-pelan agar benang sedikit-sedikit teranyam
p.      Untuk memasang jarum (otomatis benang pakan) minimal panjang kain harus 5 cm
q.      Jaram yang umum dengan kain adalah 1 cm
r.        Menjalankan mesin dengan melepaskan handle (ON) dengan syarat mesin berjalan dengan lancar
s.       Memasang kain pada rol penggulung apabila kain tersebut sudah mencapai batas ketentuan (± 3 m)

C.    Penyetelan Pembukaan Mulut Lusi
Mulut lusi adalah rongga yang terbentuk karena adanya sebagian benang lusi yang naik dan sebagian turun pada proses pembuatan kain.
Syarat pembukaan mulut lusi yang baik adalah :
a.       Berdasarkan mulut lusi sekecil-kecilnya tetapi bisa dilalui teropong dengan mudah
b.      Permukaan mulut lusi harus rata pada bagian depan baik mulut atas maupun mulut bawah
c.       Tegangan benang harus sama
d.      Benang lusi tidak boleh terganggu oleh gerakan rel gun
Description: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-9.jpg
Gambar IV. 1
Penyetelan mulut lusi
Keterangan :
            A         : Poros engkol
            B         : Sisir
            C         : Benang Lusi
            D         : Penjepit sisir
            E          : Lusi Genap
            F          : Lusi Ganjil
            H         : Kain
Penyetelan mulut lusi dilakukan jika mulut lusi tidak memenuhi syarat-syarat diatas atau terdapat mesin baru yang perlu dilakukan penyetelan.
Langkah-langkah penyetelan pembukaan mulut lusi adalah sebagai berikut:
a.       Memutar poros engkol pada titik mati atas atau jarak antara sisir dengan dada ± 23,5 cm
b.      Meratakan/mensejajarkan posisi kamran
c.       Posisi eksentrik yang sejajar, eksentrik besar untuk kamran bagian depandan eksentrik yang kecil untuk kamran bagian belakang
d.      Jarak benang lusi pada saat mulut lusi tertutup 1/3 tinggi sisir
e.       Memutar poros engkol pada posisi 10º setelah titik mati bawah dan mulut lusi terbuka maksimal
f.       Jarak antara benang lusi dengan dasar luncur ± 0,3 – 1 mm
g.      Mengatur posisi eksentrik dengan cara mengankat injakan no 1 dan 2 hingga rata dan rol injakan menempel dengan eksentrik kemudian baud eksentrik kemudian baud eksentrik dikencangkan
h.      Memasang turn buckle untuk menghubungkan kamran dengan injakan
i.        Mensejajarkan kamran dengan cara mengencangkan atau mengendorkan turn buckle
Untuk lebih jelasnya penyetelnya pembukaan mulut lusi dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Description: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-10.jpg
Gambar IV.2
Penyetelan Pembukaan Mulut Lusi
Keterangan gambar :
a.       Rol kerek
b.      Poros rol kerek
c.       Kotak dudukan
d.      Dudukan poros rol kerek
e.       Frame
f.       Sabuk kamran
g.      Hanger
h.      Kamran
i.        Turn buckle
j.        Baut eksentrik
k.      Eksentrik
l.        Poros eksentrik
m.    Rol eksentrik
n.      Rol injakan
o.      Injakan

D.    Penyetelan Peluncuran Teropong (Picking Motion)
a.       Picking Time (saat memukul)
1)      Memutar poros engkol sebelum bawah atau jarak antara sisir dengan lade 9 inci
2)      Menyetel picking bowl hingga pada lereng picking bagian belakang
b.      Picking Stroke (kekuatan pukulan)
1)      Picking bowl, pada posisi puncak picking nuse atau picking stik memukul penuh
2)      Mengukur kekerasan pukulan dengan picking stik berjarak 11 inchi dari kotak teropong bagian depan


Description: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-11.jpg








Gambar IV.3
Peluncuran Teropong
Keterangan gambar :
a.       Poros engkol
b.      Sisir
c.       Balok dada
d.      Picking bowl
e.       Picking nuse
f.       Picking stick
g.      Kotak teropong
h.      Picker
E.     Penyetelan Pengetekan (Beating Motion)
a.       Mengukur poros engkol
b.      Menyetel stop finger sehingga lurus dengan duck bill
c.       Jarak pada saat pengetekan antara duck bill dengan stop finger ± 8,4 mm
d.      Menyetel kemiringan sisir dengan dasar luncur sebesar 85º


Description: C:\ORDER ERA\NOVEMBER 2011\jutek\Untitled-12.jpg











Gambar IV.4
Penyetelan Pengetakan


Keterangan gambar :
a.       Poros engkol
b.      Stop finger
c.       Duck bill
d.      Sisir
e.       Dasar luncur
f.       Tutup sisir
g.      Penjepit sisir
h.      Poros lade


BAB V
MEMERIKSA MUTU KAIN

A.    Maksud dan Tujuan
Kain hasil proses pembuatan kain seringkali terdapat cacat kain baik yang disebabkan oleh bahan baku (benang yang kurang), lingkungan kerja yang kurang bersih, mesin tenun yang kurang standar maupun kecerobohan dari operator tenun. Kain grey hasil pertenunan sebelum diproses pada finishing atau dipasarkan, terlebih dahulu harus dikerjakan pada proses pemeriksaan kain.
Inspeksi adalah proses pemeriksaan dan perbaikan kain mentak atau grey yang merupakan hasil pertenunan. Untuk mengetahui jumlah cacat kain sehingga dapat digulungkan pada gradenya sesuai dengan standart yang digunakan.
Adapun tujuan dari inspeksi adalah :
1.      Untuk menggulungkan kain dalam hal mutu/kualitas sesuai dengan standar yang digunakan
2.      Untuk memperbaiki mutu kain
3.      Untuk memberikan informasi kepada produksi tentang kain yangdihasilkan sehingga dapat dilakukan perbaikan jika kain yang dihasilkan mutunya kurang baik.
B.     Prinsip Kerja
Ada 6 tahap pada proses inspeksi yang harus dilakukan secara urut. Keenam tahapan tersebut dapat dilihat pada gambar urutan inspeksi berikut ini:











Gambar V.1
Urutan Proses Inspecting

Pada bagian inspeksi penyusun hanya melakukan pada tahap Mending (perbaikan kain) dan Folding (lipat kain)
1.      Mending (Perbaikan Kain)
Cacat-cacat kain yang terdapat pada kain polos jika tidak diperbaiki dapat menimbulkan hal yang buruk. Dampak tersebut dapat dirasakan oleh konsumen yaitu tidak persisnya produk yang dibeli dan juga dapat dirasakan oleh perusahaan yaitu tingkat permintaan konsumen yang menurun secara terus menerus dapat menimbulkan atau menyebabkan pabrik itu bangkrut. Salah satu cara untuk menghindari hal di atas adalah dengan melakukan perbaikan mutu pada kain yang disebut juga dengan mending.
a.       Alat-alat kerja Mending
1)      Gunting kecil  : untuk memotong benang
2)      Sisir/sucket      : untuk menempatkan kain yang jarang
3)      Penjepit           : untuk menjepit kain 
2.      Folding
Folding adalah proses pelipatan kain yang dilakukan oleh mesin dan diawasi oleh satu orang di depan mesin satu orang di belakang mesin dan setelah selesai dilipat, kain diikat dan ditaruh diproses Despatching (penyimpanan)
a.       Alat-alat kerja folding
1)      Mesin Folding             : untuk melipat kain
2)      Tali rafia                      : untuk mengikat kain
3)      Gunting                       : untuk memotong tali
4)      Spidol                          : untuk mencatat hasil doffing di tepi kain
b.      Cara kerja mesin folding
1)      Mengambil lipatan kain yang sudah diperiksa
2)      Meletakkan kain dibelakang mesin folding
3)      Menarik ujung kain dan menjepitkannya pada bagian depan mesin folding
4)      Menekan tombon ON dan memperhatikan lipatan
5)      Menekan tombol OFF jika gulungan sudah selesai
6)      Melepaskan kain dari mesin folding
7)      Mengikat lipatan kain dengan tali rafia sekuat mungkin dan memberi tanda potong kain pada bagian ujung kain dengan spidol

C.    Jenis Cacat Kain
Kain hasil pertenunan kadang-kadang memiliki cacat baik ke arah lusi maupun ke arah pakan. Cacat tersebut ada yang dapat diperbaiki dan ada juga yang tidak dapat diperbaiki.
Macam-macam cacat kain pada proses mending :
1.      Cacat kain ke arah lusi
a.       Lusi putus
b.      Lusi floating (tidak teranyam)
c.       Lusi kendor
d.      Lusi tegang
e.       Lusi double/rangkap
2.      Cacat kain ke arah pakan
a.       Pakan jarang
b.      Pakan rangkap
c.       Pakan snarling
d.      Pakan putus




BAB VI
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setelah melaksanakan Praktik Kerja Industri di PT. Dupantex Pekalongan dari tanggal 1 Juli 2011 sampai dengan tanggal 30 September 2011, maka penyusun mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Bidang ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
a.       Jenis kain yang diproduksi oleh PT. Dupantex adalah kain grey dengan anyaman polos yang digunakan untuk bahan kemeja dan batik.
b.      Pada PT. Dupantex mesin hani yang digunakan adalah mesin hani lebar
c.       Mesin tenun yang digunakan adalah semua sama yaitu mesin tenun RRC dengan kecepatan Poros Utama 170 RPM.
2.      Budaya Kerja
a.       Sebagian karyawan kurang menyadari akan pentingnya pemakaian masker dan tutup telinga (kapas) sebagai keselamatan kerja.
b.      Sebagian karyawan belum memperhatikan Standar Operasional (SOP) sehingga sering terjadi problem dalam produksi.

B.     Saran-saran
Berdasarkan hasil pengamatan penyusun selama melaksanakn praktik kerja industri, maka timbul pemikiran untuk memberikan saran yang mungkin dapat berguna bagi perusahaan di masa yang akan datang. Adapun saran-saran tersebut antara lain :
1.      Untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat lokal maupun interlokal sebaiknya perusahaan juga memproduksi kain selain kain polos.
2.      Untuk membangkitkan semangat akan budaya kerja berupa bonus terutama bagi karyawan yang berprestasi.
3.      Untuk meningkatkan keberhasilan sebaiknya disediakan tempat-tempat sampah lebih banyak.
4.      Untuk meningkatkan aturan tentang larangan-larangan karyawan di tempat kerja supaya simbol-simbol larangan diperbanyak.
5.      Untuk mengetahui kemajuan siswa, maka perlu diadakan ujian tertulis maupun lisan.



DAFTAR PUSTAKA

Karnadi, Rama,  Teori Pembuatan Kain 3, Depdikbud : Jakarta, 1980
Sutandar, Tatan, Pajakun, Teori Pembuatan Kain 2, Depdikbud : Jakarta, 1978
Persiapan Maintenance, Inspecting, PT. Dupantex Pekalongan